Saturday, September 09, 2006

Pertanyaan tentang cinta

jodhi yudono - Kompas 6 Sept 2006

Para lelaki datang dan pergi. Para lelaki menjelang, lalu sunyi. Tapi tak seorang pun di antara mereka yang meninggalkan cinta buat Yani. Karenanya, Yani terus mereka-reka, macam apakah gerangan cinta?

Lalu Yani pun bertanya kepada bundanya, seperti apakah rasanya cinta. Maka seperti anda dan semua warga bumi, tak pernah benar-benar jelas memaknai kata sifat berjumlah lima huruf itu: cinta!

Sempat ia mengira, ia lahir karena cinta kedua orang tuanya. Tapi pada akhirnya, ia tahu, betapa perhitungan untung rugi lebih berat mewarnai kehidupan kedua orang tuanya ketimbang gambaran kemulyaan mengenai cinta yang melulu cuma memberi zonder berharap menerima imbalan.

Ya, seperti matahari itulah. Seperti bumi itulah. Juga seperti bulan dan bintang. Memberi kehangatan, kehidupan, sekaligus keindahan, selama beribu-ribu tahun tanpa mengeluh.
Tapi mereka yang menyala-nyala mengatakan cinta, termasuk kedua orang tuanya, senantiasa berkalkulasi tentang seberapa banyak memberi dan seberapa besar menerima dari pasangannya masing-masing.
Karena itu, rumah para pembual cinta lebih banyak diwarnai oleh keributan dari pada tawa bahagia. Atau..., sekali sekala, atas nama etiket, mereka membungkus bara dalam rumah dengan senyum yang artifisial.
Ah, siapa yang tabah mengejar cinta, jika urusan perut, kehormatan, jabatan, dan rengekan anak sedemikian menggoda?
"Ada nggak, sih?" Yani bertanya kepada Don, kekasihnya, pada sebuah senja di Utara Jakarta.
Langit masih hitam kendati tadi urung hujan. Angin daratan Asia yang basah, ternyata tak kuasa mencairkan gugusan mendung yang menggantung di langit.
"Apa?" tanya Don pura-pura bego. Angin yag lembut membelai rambut Yani yang sebahu. Matanya yang jernih memandang Don, minta jawaban segera.
"Cinta."
Don masih diam. Mata Don kemudian mengukur kesungguhan atas pertanyaan kekasihnya itu, juga melalui pandang mata perempuan muda itu.
"Ada nggak?""Ada.""Di mana?""Di tempatnya yang rahasia.""Di mana itu?""Diceruk terdalam jiwamu.""Begitu dekat,...""Sekaligus jauh.""Kok?...""Sebab jiwa, adalah juga semesta yang tak ketulungan luasnya.""Lebih luas dari bumi?""Ya.""Lebih luas dari matahari?""Bahkan lebih luas dari segenap galaksi.""Mana mungkin aku bisa menjangkaunya?...""Jangan putus asa, mungkin saja kamu bisa menemukannya.""Caranya?""Carilah.""Jangan bercanda, aku juga terus mencarinya.""Ke mana kamu mencarinya?""Pada tiap lelaki yang datang kepadaku.""Ketemu?""Nggak.""Hua ha ha...""Nggak lucu, aku serius, Don!""Aku juga serius.""Kenapa kau menertawakanku?""Karena dijamin nggak bakal ketemu.""Sok tahu lu!""Barangkali karena aku memang lebih tahu ketimbang kamu mengenai perkara cinta.""Jangan bertele-tele, tunjukan aku ke mana aku harus mencari cinta.""Kenapa harus mencari pada orang lain, sedang ia bersama dirimu sendiri?""Lalu apa faedahnya kekasih?""Macam aku?"Yani yang sedang dilanda amarah cuma melotot menyaksikan Don yang masih cengar-cengir."Kekasih adalah teman bagimu untuk mencari cinta.""Lalu apa perasaanmu kepadaku?"Don diam sejenak. Ia pandangi wajah kekasihnya lekat-lekat. Lalu katanya..."Bohong kalau aku nggak sayang kepadamu.""Lantas apa artinya sayang?""Sayang cuma salah satu pancaran cahaya cinta. Dialah yang membuatku cemas saat aku tahu kamu dihadang hujan, saat kamu sedang sakit. Dialah yang membimbingku mengarungi belantara ibu kota untuk menjemputmu sepulang kerja. Dialah juga yang mendorongku untuk menghiburmu saat kau sedang berduka.""Begitu juga perasaan yang ada pada kedua orang tuaku dan pasangan suami istri di dunia ini? Cuma sekedar sayang?""Aku bukan petugas sensus yang tahu segalanya tentang manusia. Tapi setahuku, milyaran manusia telah gagal mengejar cinta.""Apa buktinya?""Bumi yang kita diami tak pernah menjadi sorga, ia malah kian menjadi siksa bagi penghuninya.""Kenapa?""Sebab banyak yang menterjemahkan cinta dengan membabi-buta. Kita mengatasnamakan cinta, padahal yang kita kerjakan adalah sekedar memenuhi dorongan naluri binatang yang berujung pada pengejaran kenikmatan tidur, makan, dan bersetubuh.""Lalu...?""Ditambah lagi oleh dorongan yang dimiliki tiap manusia untuk bermegah-megah, sombong, iri, dengki, berkuasa, maka sesungguhnya cinta itu pun makin tersembunyi.""Siapa yang menyembunyikannya?""Kita sendiri. Kita telah membangun kebun binatang di jiwa kita. Kita telah menutupi taman jiwa dengan belukar keserakahan kita.""Bukankah begitu adanya kewajaran hidup kita?""Makanya cuma sedikit yang mengenal cinta."

Angin mendesir menggoyangkan dedaunan kelapa. Layar-layar perahu nelayan di Teluk Jakarta berkebaran bersama senja. Sepasang kekasih itu masih juga sibuk membicarakan cinta.
"Don...""Ya.""Aku kepingin benar mengenal cinta.""Sungguh?""Ya.""Kenalilah dulu pemiliknya.""Siapa gerangan yang memilikinya?""Dialah yang menggerakkan lidahmu untuk berkata-kata. Membuka telingamu untuk mendengar. Menggerakkan kemauanmu untuk bertindak. Memfungsikan otakmu untuk menyerap pengetahuan. Memberi kemampuan bagi matamu untuk melihat...""Sudah..sudah, pusing aku.""Katanya mau mencari cinta. Mustahil kamu akan mengenal cinta jika tak pernah mengenal pemiliknya.""Iya, tapi tidak serumit ini.""Ini bukan matematika, kekasihku. Ini juga bukan Ilmu Sistem politik Rusia dan Eropa Timur yang membuat 90 persen mahasiswa di kelasmu mendapat nilai C waktu kau kuliah dulu. Perkara cinta dan pemiliknya, makin dipikir makin tak ketemu ujungnya.""Terus?""Kerjakan saja semua kebaikan semampu kau mengerjakannya. Mudah-mudahan kau akan mengenal pemilik cinta.""Setelah itu?""Setelah itu, mudah-mudahan kau akan mendapatkan cinta sesuai dengan kebaikan yang telah kau kerjakan.""Cinta itu kebaikan ya Don?""Cinta bagai manikam yang memancarkan keluhuran, keagungan dan kemulyaan."
Kemudian pemilik cinta menggerakan lidah, tubuh dan jiwa sebagian orang di senja itu untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, kalimat yang memuji dan mengharap kebaikan dari pemilik cinta. Don dan Yani ada bersama mereka. Mereka serempak dalam gerak dan kalimat yang terpuji.
Hari mulai berangkat malam. Don dan Yani mampir di sebuah kedai untuk makan malam. Saat menunggu makanan datang, udara dipenuhi oleh suara para pembual cinta yang telah dikemas menjadi industri hiburan bernama sinetron.

Usai makan, mereka pun berlalu dari tempat itu. Gerimis menjemput mereka di jalanan kota Jakarta yang saling silang."Don...""Ya...""Aku malu.""Kenapa?""Ribuan kata cinta pernah keluar dari mulutku, padahal aku tak tahu apa-apa tentang cinta.""Sebagian besar orang berbuat hal yang sama dengan dirimu, termasuk aku."
Di sepanjang jalan, sepasang kekasih itu pun kembali menyaksikan sejumlah penggoda jiwa berupa papan reklame, apartemen, hotel, tempat hiburan, dan gedung parlemen.
"Don...""Hmm...""Kamu mau nggak?""Mau apa?""Menemaniku mencari cinta.""Hmm..."
Dua orang pengamen mencegat mereka di perempatan Blok M yang baru usai diguyur hujan. Lalu dari kaca jendela mobil yang mereka kendarai, terdengarlah suara pengamen itu yang menyanyikan sebuah lagu dari Koes Plus.
Cinta buta...Cinta buta...Tanpa mata dan telinga...
Bruk! Mendadak sebuah motor menubruk mobil yang dikendarai sepasang kekasih itu. Don bukannya marah, malah terbahak-bahak.
"Kenapa, Don?""Yang nabrak kita barangkali sedang dilanda cinta."

Monday, May 29, 2006

spirit

berupaya menghadirkan 'semangat' itu di otakku, di detak jantungku dan di tiap ujung jari-jariku....

Friday, May 19, 2006

keSehaRian saat ini

pagi ini saya terbangun dan merasa lelah, rasanya menyenangkan bila saja saya tdk harus pergi ke lab. dan spt saat2 sebelumnya, toh saya harus tetap pergi ke kampus dan menyelesaikan pekerjaan yg disiapkan sehari sebelumnya. hari ini tiba di kampus jam 08.30, menyimpan "ligation product" dan menyiapkan sample untuk "miniprep" sebelum ikut workdiscussion. sekitar jam 10 mulai kerja lagi di lab, terus sampai sekitar jam 16.30.
mulai minggu ini, officially saya mulai bekerja sendiri di lab tanpa pengawasan dari spv. awal minggu ini kami sempat diskusi, spv saya merasa sudah mengajarkan semua "methods" yg dibutuhkan utk kelanjutan penelitian. at the same time, saya juga ingin lebih independent di lab. saati diskusi itu dia juga sempat berkomentar kalau saya kadang terlalu hati2 saat kerja dilab, dan itu membuat saya tdk cukup cepat menurut "ukuran"nya. hmm, kadang saya memang hati2 karna saya ingin bekerja dengan benar dan tepat. memang konsekwensinya saya bekerja lebih lambat, tapi saya rasa itu lebih baik daripada saya harus mengulang pekerjaan yg sama bukan? dan lagi menurut saya menjadi "cepat" adalah perkara latihan". kira2 itulah tanggapan saya terhadap komentarnya.
spv yang sekarang memang berbeda dgn spv minor thesis dulu. kalau yg dulu, bahkan saya harus rajin ke ruangannya utk menunjukkan hasil atau kadang memintanya melihat saya bekerja ketika saya tidak yakin akan sesuatu. spv yang sekarang sangat disiplin, selalu menekankan untuk kerja yang efisien, tepat, cepat, dan bersih. belum lagi kebiasaannya menguji kemampuan berhitung saya di lab, berusaha membiasakan saya utk menghitung diluar kepala, atau menerangkan multiple things saat saya sedang bekerja. bisa dibayangkan hebatnya badai otak di kepala saya kan? :d
well, tapi saya akui dia memberi saya banyak kesempatan utk belajar. dia menuntut banyak hal, tapi memang bertanggung jawab sbg spv. kebiasaannya adalah memberi protocol bbrp menit sblm memulai suatu pekerjaan, dia lebih suka bertanya dan menguji pengetahuan saya ttg suatu metode sebelum memulai dan menanyakan berapa banyak kuantitas suatu bahan yg saya perlukan.
phewww, kadang terasa melelahkan tetapi seorang teman berkata kalau saya beruntung dan saya mengAMINinya.

Tuesday, April 11, 2006

..spring feeling..

adalah sebuah keindahan melihat kuncup krokus dan daffodil bertebaran setelah kebekuan yang cukup panjang. akhirnya, alam kembali berwarna..!!
saya selalu suka spring dan apa yang ditawarkannya, seperti juga saya selalu suka musim gugur dan semua keanggunan yang selalu menjadi miliknya. saya rasa semua musim memiliki kemegahannya sendiri yang terlalu sulit untuk saya bandingkan.

saat spring, selain karna udara yang menghangat, suara cicit burung yang menemani saya bersepeda ke kampus dan keanekaan lain yang ditawarkan alam, saya juga menikmati spirit dari wajah-wajah yang saya jumpai. rasanya, orang menjadi lebih relax dan ramah saat spring dan summer. bagi penduduk negri ini, mungkin spring dan summer adalah saat mereka berisitirahat sejenak dari kerasnya cuaca. saat ini, udara masih cukup dingin di wagenigen. angin dan hujanpun masih mewarnai hari-hari kami disini. rasanya kami masih harus bersabar untuk manikmati "real nice weather"-yang saya artikan sebagai hari-hari dimana matahari bersinar cerah, tanpa hujan dan angin kencang.

welcome you, season of hope. at least hope for real nice weather!!

Monday, March 20, 2006

Sahabat (AFI Junior)

Andai kupunya sahabat
ingin ku selalu dekat
inginku usir rasa sepi sendiri ini

Andai ku bisa berlari
kanku bawa engkau pergi
melompat ke langit yang tinggi tinggi tinggi tinggi

Reff:
Sahabat pasti kan datang
dikala sedih dan senang..
Sahabat pasti takkan pergi..
menemani disepanjang hariku..

Friday, March 03, 2006

- A journey to remember -

waktu itu aku bertanya, tentang datang, pergi, dan singgah
tentang sekumpul orang yang bertemu di suatu titik, di suatu waktu
kenapa aku bertemu denganmu, kau bertemu denganku, dengan kami di sini?

ketika di rumah aku selalu bermimpi tentang tempat yang jauh
tentang musim semi, salju dan musim gugur yang tak dimiliki rumah
tentang pertemuan dengan wajah-wajah baru dan gairah yang mereka punya
berpindah, singgah dan bertemu selalu kuyakini sebagai salah satu upaya
memerdekaan pikiranku dari penjaranya
menyiapkanku untuk perjalanan berikutnya yang tak pernah kutahu seperti apa

di sini aku bertemu denganmu, dan dengan manusia-manusia istimewa yang lain
jauh dari rumah membuat kita harus memulai semua dari awal
mengenal, belajar untuk percaya sampai akhirnya menjadi seperti keluarga
dari setiap jiwa aku ingin belajar, tentang harapan, kepahitan dan semangat
juga tentang kesederhanaan
dan ketika semua ini terasa sempurna, kitapun harus pergi dan berpencar
melanjutkan perjalanan dan berharap kita dipertemukan di suatu persimpangan

kemudian aku meyakini, datang, bertemu, dan pergi adalah sebuah rencana sempurna
di suatu hari yang cerah kuharap kita akan kembali bertemu
berbagi cerita tentang jalan-jalan yg telah kita lalui
tentang jiwa-jiwa sederhana dan berani yang kita jumpai
dan mengingat kembali tentang hari ini ....:)


dedicated to my big happy family

Sunday, February 19, 2006



photo by gafura01 & pange001